TEXT
PENILAIAN RISIKO PADA AREA PENAMBANGN MENGGUNAKAN METODE HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESMENT AND RISK CONTROL (HIRARC) DAN MATRIK RISIKO PADA PT. SETIATAMA MEGA KONSULTAN
Abstrak. Penelitian ini dilaksanakan di area kerja PT. Setiatama Mega Konsultan pada jobsite PT.
Adaro Indonesia yang berlokasi di Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi
Kalimantan Selatan, dengan fokus pengamatan pada tiga area utama, yaitu front loading, hauling dan
settling pond. Industri pertambangan merupakan salah satu sektor di Indonesia yang menghadapi risiko
kecelakaan kerja sangat tinggi. Berdasarkan informasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, terdapat 217 insiden kecelakaan di tambang sepanjang tahun 2023, di mana 48 orang
kehilangan nyawa. PT. Setiatama Mega Konsultan, yang berfungsi sebagai subkontraktor PT. Adaro
Indonesia, masih belum sepenuhnya menerapkan metode penilaian risiko secara sistematis di lokasi
tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, dan
memberikan rekomendasi untuk pengendalian risiko di lingkungan kerja PT. Setiatama Mega
Konsultan. Metode yang digunakan adalah Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control
(HIRARC) yang dikombinasikan dengan matriks risiko sesuai standar AS/NZS 4360:2004. Data
diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara, dan pengisian kuesioner oleh para pekerja.
Penelitian berlangsung selama dua bulan, dari Februari hingga Maret 2026. Temuan pengidentifikasian
menunjukkan terdapat 13 potensi bahaya, meliputi benturan oleh bucket yang bergerak, mesin
overhead, tertimpa pohon atau hewan liar, bekerja di ketinggian, tanggul yang rusak, lereng yang
runtuh, flyrock, jarak kendaraan yang terlalu dekat, beban dump truck yang berlebihan, jalan hauling
yang tidak rata, tanah yang licin, kelelahan operator, dan paparan debu. Hasil dari penilaian risiko yang
dilakukan dengan menggabungkan HIRARC dan Matrik Risiko mengungkapkan bahwa 8 potensi
bahaya termasuk dalam kategori risiko tinggi sementara 5 potensi bahaya lainnya berada pada tingkat
risiko sedang. Tingkat risiko tertinggi terdeteksi di area hauling dengan nilai 12 (tinggi), yang
disebabkan oleh bahaya kelelahan operator dan paparan debu yang mengganggu penglihatan.
Pengendalian risiko dilakukan dengan mengikuti hirarki pengendalian yang mencakup eliminasi,
substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
Rekomendasi dari studi ini meliputi pelaksanaan pemeriksaan secara rutin, penegakan Prosedur Operasi
Standar (SOP), program manajemen kelelahan, pengendalian debu secara terjadwal, dan pemantauan
stabilitas lereng untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan di area penambangan.
Kata Kunci: HIRARC, K3, Matriks Risiko, Penambangan
| S11-6391 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain