TEXT
PENYISIHAN MIKROPLASTIK MENGGUANAKAN BIOKOAGULAN BIJI KELOR (MORINGA OLEIFERA) DAN KOAGULAN KIMIA PADA LIMBAH CAIR DOMESTIK RUSUNAWA KEPUTIH SURABAYA
ABSTRAK
Mikroplastik semakin banyak ditemukan pada air limbah domestik akibat
penggunaan produk plastik dan tekstil sintetis dalam aktivitas rumah tangga, serta
berpotensi mencemari lingkungan perairan apabila tidak disisihkan secara
optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik kelimpahan awal
mikroplastik pada air limbah domestik Rusunawa Keputih Surabaya,
membandingkan efisiensi penyisihannya menggunakan biokoagulan biji kelor
(Moringa oleifera) dan tawas (Al2(SO4)3), serta mengkaji pengaruh dosis koagulan
dan kecepatan pengadukan terhadap efisiensi penyisihan mikroplastik. Penelitian
dilakukan menggunakan metode koagulasi-flokulasi skala laboratorium (jar test)
dengan variasi dosis koagulan 50, 100, dan 150 mg/L serta variasi kecepatan
pengadukan cepat-lambat 100 & 30 rpm dan 200 & 45 rpm. Analisis yang
dilakukan meliputi pH, kekeruhan, total suspended solids (TSS), Fourier
Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), zeta potensial, dan uji statistik Two-
Way ANOVA. Karakteristik kelimpahan awal mikroplastik didominasi oleh
bentuk fiber (43,86%), ukuran 1–100 μm (57,46%), dan warna transparan
(34,21%), sedangkan hasil analisis FTIR mengindikasikan polimer berbasis
hidrokarbon, yaitu polyisobutylene, black rubber, dan polyethylene. Efisiensi
penyisihan mikroplastik berkisar antara 28–85%, dengan efisiensi tertinggi
diperoleh pada penggunaan tawas dosis 50 mg/L dengan kecepatan pengadukan
100 & 30 rpm sebesar (85%), sedangkan pada biokoagulan biji kelor 50 mg/L,
100 & 30 rpm sebesar (81%). Hasil tersebut didukung oleh penurunan kekeruhan
sebesar 93–97%, TSS sebesar 86–97%, serta pergeseran nilai zeta potensial dari -
27,92 mV menjadi -12,05 mV pada biji kelor dan -10,07 mV pada tawas. Hasil uji
Two-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi dosis koagulan dan kecepatan
pengadukan tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi penyisihan
mikroplastik (P > 0,05). Meskipun demikian, berdasarkan analisis deskriptif,
kombinasi dosis 50 mg/L dan kecepatan pengadukan 100 & 30 rpm menghasilkan
rata-rata efisiensi penyisihan mikroplastik tertinggi pada kedua jenis koagulan.
Skripsi – Wanda Dolfero 09.2022.1.00740 vi
Program Studi Teknik Lingkungan – Institut Teknologi Adhi Tama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji kelor menjadi salah satu pilihan
koagulan alami yang efektif dan lebih ramah lingkungan dalam penyisihan
mikroplastik pada air limbah domestik.
Kata Kunci: Air limbah domestik; Biji kelor (Moringa oleifera); Koagulasi-
flokulasi; Mikroplastik, Tawas.
| S09-4481 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain